Dosen Psikologi Dermawan Waruwu Raih Gelar Doktor Kajian Budaya

darmawanwaruwu

Dermawan Waruwu, Dosen program studi Psikologi Universitas Dhyana Pura (Undhira) meraih gelar pendidikan tertinggi setelah mengikuti ujian terbuka promosi Doktor, Rabu (22/11). Gelar pendidikan tertinggi tersebut diraih pada Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana yang bertempat di auditorium Widhya Sabha Mandala.

Disertasi yang berjudul “Hegemoni dan Kontra-Hegemoni dalam Pengembangan Kawasan Wisata Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara” berhasil dipertahankan di hadapan penguji. Ketua Penguji saat itu adalah Dekan FIB Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha. Anggota penguji terdiri dari Prof. I Nyoman Darma Putra (promotor), Prof. AAN Ngurah Anom Kumbara (ko-promotor 1), Dr. I Gde Mudana (ko-promotor 2), Prof. AAB Wirawan, Prof. I Ketut Ardhana, Dr. Putu Sukardja, Dr. Ketut Setiawan, dan Dr. I Nyoman Dhana.

Hadir dalam kesempatan itu Rektor Universitas Dhyana Pura Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ.,M.Repro dan WR I Dr. IGB Rai Utama, dosen dan mahasiswa Kajian Budaya Unud, serta keluarga promovendus. Beberapa tampil dengan pakaian daerah Nias, termasuk promovendus Dermawan Waruwu, yang ingin menunjukkan jati diri daerah dan memenuhi kaul.

Dalam disertasinya, Dermawan Waruwu menjelaskan bahwa praktik hegemoni terlihat pada wacana pemerintah dalam pengembangan, kontrol pemerintah dalam regulasi pembiayaan, kekuasaan DPRD dalam mempolitisasi APBD, kebijakan bupati dalam mengubah dinas pariwisata dan kebudayaan, dan kewenangan Kepala Desa Bawomataluo dalam menerapkan Peraturan Desa Nomor 3 Tahun 2015. Kontra-Hegemoni dilakukan oleh warga karena mereka melihat bahwa pemerintah kurang serius dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo. Praktik kontra-hegemoni ini terlihat dari sikap masyarakat kurang mendukung kebijakan pemerintah yang terus mewacanakan pengembangan kawasan Bawomataluo menjadi destinasi wisata nasional.

“Konflik kepentingan menjadi latar belakang timbulnya praktik hegemoni dan praktik kontra-hegemoni dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo, praktik inilah yang menjadi kendala dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo selama ini,” jelas Dermawan.

Dermawan Waruwu berhasil lulus dan memperoleh pedikat “sangat memuaskan”. Ia menjadi doktor ke-22 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Unud dan Doktor ke-200 di lingkungan Prodi Doktor (S3) Kajian Budaya FIB Unud.

Promotor Prof. I Nyoman Darma Putra setelah menyerahkan sertifikat kelulusan kepada doktor baru Dermawan Waruwu dan menyampaikan sambutan singkat mengenai makna disertasi. Menurut Prof. Darma Putra, penelitian Dermawan merupakan studi kritis atas situasi ‘kritis’ di lapangan karena kawasan wisata Bawomataluo ini memiliki potensi rumah adat dan atraksi wisata yang menarik tetapi tampak tidak dikelola dengan baik. “Perlu diperjuangkan agar kawasan Bawomataluo bisa dikembangkan sebagai bagian dari proyek pariwisata pemerintah pusat seperti pembangunan 10 Bali Baru,” ujarnya.

Universitas Dhyana Pura, dengan peringkat akreditasi institusi “B”, mendorong para dosen untuk meningkatkan kualifikasi akademik mereka guna meningkatkan kualitas dan reputasi institusi. Tercatat sudah ada 14 orang dosen UNDHIRA yang telah menyelesaikan S-3. Dosen yang berkualitas dan memilii kualifikasi merupakan salah satu pilar penting dalam mencapai visi teladan dan unggulan, serta mewujudkan lulusan yang confident, competent, dan competitive.