Pilot Project Desa Herbal di Desa Catur, Kintamani, Bangli

Pilot Project Desa Herbal di Desa Catur, Kintamani, Bangli

Desa Catur mempunyai potensi yang sangat besar dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Desa yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini sedang dirintis menjadi desa binaan Universitas Dhyana Pura (Undhira). Disebut menjadi “Desa Herbal”, Desa Catur mempunyai banyak sekali jenis tanaman yang bisa dijadikan tanaman obat. Namun karena keterbatasan pemahaman masyarakat untuk mengenali jenis dan khasiat tanaman herbal yang ada, potensi itu menjadi terabaikan dan belum termanfaatkan secara optimal.

            Pada hari Selasa, (26/9) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Undhira mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan bagian dari program Pilot Project Desa Herbal di Catur. Tim LP2M Undhira disambut oleh perbekel Desa Catur I Made Agus Antara serta kelompok wanita Subak Abian Kenjung yang antusias menerima tim Undhira. LP2M Undhira menghadirkan 2 (dua) narasumber yaitu pakar herbal Ida Ayu Rusmarini (Ibu Dayu) dan pakar tanaman organik Yudiono.

            Ibu Dayu mengenalkan dan mendemonstrasikan kepada kelompok wanita di Desa Catur tentang jenis, khasiat dan manfaat dari tanaman herbal yang ada di sekitar mereka. “Tanaman herbal di Desa Catur sangat banyak jenisnya dan cukup lengkap bahkan saya lihat di pekarangan rumah warga sudah ada yang menanamnya, tetapi saya belum yakin ibu-ibu mengetahui fungsi dan manfaat dari tanaman tersebut, mungkin ada satu atau dua jenis diketahui fungsinya, sekarang akan saya jelaskan dan praktekkan langsung cara membuat obat herbal dari tanaman obat tersebut,” Ujarnya.

            Lebih lanjut Ibu Dayu menjelaskan bahwa reaksi obat-obatan tradisional memang lambat karena butuh waktu untuk diserap oleh tubuh. Berbeda dengan obat-obatan kimia yang reaksinya cepat. Tetapi saat ini banyak orang yang resisten dengan obat kimia dan banyak penemuan-penemuan penyakit yang tidak bisa terobati oleh medis. Oleh karena itu mereka cenderung kembali ke alam.

            Sementara itu, Bapak Yudiono menjelaskan dan mendemonstrasikan potensi sayuran organik seperti Pok Choi yang dapat dibuat smoothie dengan campuran nanas dan madu, dengan khasiat yang baik bagi tubuh terutama bagi penderita asam lambung. Membuat minuman fungsional dari sayuran dan buah-buahan akan juga meningkatkan minat anak-anak yang cenderung enggan mengonsumsi sayuran apabila tidak dikemas dengan menarik. “Banyak masalah kesehatan yang muncul karena kurangnya mengonsumsi sayur,” ujar Pak Yudiono. Oleh karena itu, beliau menyarankan warga Desa Catur memanfaatkan lahannya yang subur dengan menanam secara organik kemudian mengolah dengan kombinasi rasa dan kemasan yang sehat sekaligus menarik.

            Kepala LP2M Undhira Dr. Diana Erfiani, SS., M.Hum mengatakan bahwa LP2M Undhira dalam 2 tahun ini akan secara konsisten mendatangkan Narasumber ke Desa Catur karena akan dijadikan desa binaan dari Undhira, LP2M juga akan melibatkan setiap prodi yang ada di Undhira untuk ikut dalam pengabdian di Desa tersebut.

            Perbekel Desa Catur I Made Agus Antara mengapresiasi Undhira yang sudah secara konsisten mambantu masyarakat desa catur untuk mengolah tanaman-tanaman obat yang oleh masyarakat catur sangat awam mengetahui fungsi serta manfaat dari tanaman tersebut. “Tantangan selanjutnya adalah tentang pemasaran setelah diproduksi oleh masyarakat di Desa Catur itu perlu bantuan dari Undhira lagi terutama LP2M,” ujar Agus Antara.