Badung – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Dhyana Pura menyelenggarakan Seminar ECO Entrepreneurship Hub 2026 bertema “Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GESI)” pada Jumat, 30 Januari 2026, di lingkungan Universitas Dhyana Pura.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Dhyana Pura, Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk mendorong terciptanya masyarakat yang inklusif.

“Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi pelopor dalam membangun ekosistem yang adil, setara, dan inklusif. Melalui seminar ini, kita ingin memastikan bahwa tidak ada potensi yang terabaikan, termasuk dari saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” ujar Rektor.

Ia juga menambahkan bahwa penguatan kewirausahaan berbasis nilai sosial merupakan bagian dari komitmen universitas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Sesi pertama menghadirkan Verasea Manurung, yang memaparkan konsep Gender Equality dan Social Inclusion (GESI). Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa gender bukan sekadar perbedaan biologis, melainkan konstruksi sosial yang memengaruhi akses, peran, dan kesempatan dalam masyarakat.

“Ketidakadilan gender sering kali terjadi secara tidak disadari melalui stereotipe, marginalisasi, hingga beban ganda. Karena itu, kesetaraan gender harus dimulai dari keluarga, diperkuat oleh lembaga pendidikan, dan didukung oleh dunia kerja serta media,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa prinsip non-diskriminasi, partisipasi bermakna, aksesibilitas, dan transformasi sosial harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan dan program pembangunan.

Sementara itu, sesi kedua disampaikan oleh I Nyoman Juniarta dengan materi “Peluang Usaha Kreatif Disabilitas dalam Mendukung Ekonomi Lokal.” Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa disabilitas bukanlah hambatan untuk berkarya dan berwirausaha.

“Disabilitas bukan kekurangan, melainkan potensi yang akan berkembang jika diberikan akses, pelatihan, dan kesempatan. Ekonomi kreatif membuka ruang yang sangat luas karena bertumpu pada ide dan kreativitas, bukan semata kekuatan fisik,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa sektor ekonomi kreatif seperti kriya, kuliner, fashion, jasa digital, hingga seni dan hiburan sangat memungkinkan untuk dikembangkan oleh penyandang disabilitas karena fleksibel dan dapat dimulai dari skala kecil. Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada kemampuan mengenali potensi diri, membangun identitas lokal pada produk, memperkuat branding, serta memanfaatkan pemasaran digital.

“Ketika usaha kreatif disabilitas berkembang, dampaknya nyata: membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, memperkuat ekonomi desa, sekaligus mengurangi stigma. Disabilitas berdaya berarti ekonomi lokal ikut kuat,” tegasnya.

Seminar yang dimoderatori oleh Putu Chris Susanto, B.A., M.BA., M.Ed. ini berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan diskusi bersama peserta.

Sebagai penutup, Kepala LPPM Universitas Dhyana Pura, Ni Putu Widya Astuti, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen LPPM dalam mengintegrasikan nilai kesetaraan dan inklusi dalam program kewirausahaan kampus.

“Melalui ECO Entrepreneurship Hub 2026, kami ingin membangun kesadaran sekaligus aksi nyata. LPPM berkomitmen mendorong lahirnya program-program pendampingan dan kolaborasi yang mendukung kewirausahaan inklusif, sehingga kampus benar-benar hadir bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap seminar ini tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan menjadi langkah awal lahirnya inisiatif konkret yang berdampak bagi penguatan ekonomi lokal yang berkeadilan dan inklusif.

Melalui kegiatan ini, Universitas Dhyana Pura kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang unggul secara akademis sekaligus aktif dalam mendorong pembangunan sosial yang berkelanjutan.