Bali memiliki wisata diving yang keindahannya menarik wisatawan. Salah satunya wisata diving di Tulamben, Karangasem. Sayangnya, belum ada pengelolaan wisata yang tepat untuk wisata diving ini sehingga efeknya berimbas pada kelesatrian terumbu karang. Lewat disertasinya dengan judul Model Pengelolaan Destinasi Wisata Diving Berbasis Konservasi Di Tulamben Bali, Rahmadi Prasetijo menawarkan pemecahan untuk masalah tersebut.

Disertasi ini dipaparkan Rahmadi Prasetijo dalam ujian terbuka promosi Doktor   yang digelar di Lantai III Gedung Program Pascasarjana, Universitas Udayana, Jumat (6/9). Rahmadi mampu mempertahankan disertasinya dihadapan para undangan akademik dan para promotor dan co-promotor. Ujian promosi doktor ini dipimpin oleh Promotor, Prof. Dr. Ir. Made Antara, MS., Kopromotor I, Prof. Dr. Ir I Wayan Arthana , MS., dan Kopromotor II , Dr. Ir. A.A.P. Agung Suryawan W. M.Sc.

Dalam disertasinya, Rahmadi menjelaskan model pengelolaan destinasi wisata berbasis konservasi ini penting diterapkan, khususnya di wilayah Tulamben, Karangasem dimana pengelolaan wisata divingnya masih kurang sinkron antara diver, regulator dan pemerintah daerah. Model pengelolaan yang ditawarkan adalah pembentukan badan pengelola wisata dan one gate system dimana wisata akan bisa berjalan tanpa harus merusak lingkungan. ”Di Tulamben sistemnya masih open sistem. Diver bisa datang kapan saja. Bahkan saking banyaknya, kalau menyelam terkadang bisa bersenggolan dengan diver lainnya. Bahkan tidak sedikit terumbu karang yang tertendang dan akhirnya rusak. Karenanya dalam disertasi ini saya menawarkan model pengelolaannya yang sejalan antara kelestarian lingkungan dan ekonomi,” ujarnya. Setelah disertasi ini diterima di jajaran akademik tentu kelanjutanya adalah melemparkan ide dalam disertasi ini kepada pemerintah dan pemegang kebijakan terkait untuk bisa menerapkannya.

Setelah sidang diskor selama 20 menit untuk memutuskan predikat kelulusan, ketua sidang akhirnya memutuskan promovendus Rahmadi Prasetijo lulus dengan predikat sangat memuaskan. Rahmadi yang juga dosen di Universitas Dhyana Pura ini menjalani studi di program studi doktor Fakultas Pariwisata Universitas Udayana dan menjadi dosen dengan gelar Doktor ke-15 yang dimiliki Universitas Dhyana Pura (Undhira).

Rektor Undhira, Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, M.MA., MA.,  mengatakan dengan adanya penambahan doktor dalam jajaran dosen Undhira tentu sangat berpengaruh pada kualitas pengajaran di Undhira sendiri. Selain itu juga berpengaruh pada ranking Undhira untuk perguruan tinggi non vokasi di taraf Nasional. ”Undhira dengan ini memiliki 15 dosen bergelar doktor. Ini tentu sangat berpengaruh pada kualitas dan ranking Universitas. Seperti diketahui ranking kami untuk Perguruan Tinggi non vokasi naik dari rangking 300 secara nasional tahun lalu menjadi 149 tahun ini. Diharapkan tahun depan akan naik kembali mengingat akan ada tambahan dua doktor lagi. Saat ini sedang dalam proses,” ujarnya.

Selain itu diharapkan disertasi yang dihasilkan ini bisa didaftarkan menjadi HAKI baik dari dalam bentuk model lengelolaan dan pelestarian. Sebab semakin banyak HAKI maka inovasinya semakin bagus dan penilaian kualitas serta rangking Universitas pun semakin meningkat. ”Akan lebih baik jika ide-ide ini  juga   bisa diindustrilisasi sehingga bisa berkontrinusi untuk peningkatan kualitas baik masyarakat maupun lingkungan,” ujarnya. Di sadur dari (Bali Post)-