Perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Pekerjaan dan cara bekerja berubah, banyak lapangan pekerjaan hilang, sementara berbagai jenis pekerjaan baru bermunculan. Perubahan ekonomi, sosial, dan budaya terjadi dengan sangat dinamis. Masa yang dinamis tersebut perguruan tinggi (PT) dituntut untuk meresponnya secara cepat dan tepat. Dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan pada dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat maka program kampus merdeka atau merdeka belajar mewujudkan pembelajaran di perguruan tinggi secara otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Dengan capaian di setiap perguruan tinggi akan mampu menghasilkan lulusan yang memenuhi kebutuhan dunia kerja masa kini sehingga memperkecil kesenjangan dunia  pendidikan tinggi  dan dunia kerja.

Menyikapi hal tersebut Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan sosialisasi dan workshop instrumen tracer study yang diikuti oleh 50 peserta luring dari PTS di wilayah Bali dan 200 peserta daring dari berbagai PTS lingkungan  LL Dikti. Wilayah II, VII dan XV. Adapun pelaksanaan secara luring dengan protocol kesehatan ketat mengambil tempat di kampus Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali. Acara yang hostnya Undhira tersebut dilaksanakan pada Minggu 21 Maret 2021 dimulai pukul 10.00 Wita hingga sore hari. Sosialisasi diawali sambutan oleh Afriyudanto, S.Tp., MM. Kepala SubBagian Tata Usaha, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Serta Rektor Undhira dan dibuka oleh Prof. Nengah Dasi Astawa Kepala LL Dikti. Wilayah VIII.

Dalam sambutan Afriyudanto menyampaikan “kampus merdeka akan mampu berjalan baik dengan menggunakan alat ukur tracer study sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari merdeka belajar atau kampus merdeka.  Melalui tracer study akan terlihat data yang ada atau potret keadaan yang sesungguhnya  hasil lulusan PT, sehingga bisa menjadi evaluasi dari program kampus merdeka. Dra. Rahayu Retno Sunarni, M.Pd. selaku  koordinator Penjaminan Mutu DIKTI memberikan pengantar dalam acara tersebut yakni : pentingnya tracer study, kebijakan pelaksanaan tracer study yang merupakan indikator kinerja harus diukur oleh PT, Sistim, Instrumen standart dan aplikasi sudah disiapkan. Apabila PT belum memiliki sistim pelacakan bisa menggunakan sistim tersebut namun sistim tersebut bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi PT masing-masing.

Sesi pertama hadir nara sumber Dr. Ied Veda Sitepu yang memaparkan pentingnya evaluasi pendidikan dan pemetaan pasar kerja. Dan Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH. memperkenalkan instrument baru. Instrumen yang terstandarisasi dengan menggunakan desain dan metodologi yang baku secara nasional. Instrumen tersebut dikembangkan dengan tujuan agar hasilnya dapat diperbandingkan (comparable). Dalam sesi tersebut disampaikan bahwa lulusan yang di tracer adalah yang kelulusannya setahun terahir dengan pernah bekerja selama 1- 6 bulan dengan penghasilan di atas UMR, atau melajutkan studi dana atau menjadi wiraswasta. Apakah pekerjaannya linier dengan studinya ?. Setiap PT yang akan mengajukan akreditasi wajib sudah melaksanakan tracer study sebagai bagian evaluasi PT tersebut.

Di sesi ke dua analisis hasil serta paparan sistim PRIMA dipaparkan secara rinci oleh Ruddy J Suhatril. Pengisian instrumen dalam aplikasi yang sudah dikembangkan oleh Belmawa DIKTI disosialisasikan kepada semua peserta luring maupun daring. Masa depan yang berubah dengan cepat, PTN maupun PTS dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan. Menghadapi tantangan jaman yang pesat melalui sosialisasi dan wokshop tersebut  Belmawa DIKTI mengajak agar PT melaksanakan  tracer study dan mengisi data dengan baik.

Humas Undhira.