Konsumen milenial Indonesia menilai nama merek hotel berbahasa Inggris lebih premium dari pada hotel dengan nama merek berbahasa Indonesia. Nama merek hotel berbahasa Inggris dipersepsikan lebih baru, lebih mahal, lebih mewah, lebih luas, lebih tinggi klasifikasi bintangnya, serta lebih tinggi kualitasnya dari pada nama merek hotel berbahasa Indonesia.
Itulah hasil riset yang dilakukan oleh satu kelompok mahasiswa Universitas Dhyana Pura (Undhira) merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa yang didanai Dirjen Belmawa Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Riset hasil kelompok mahasiswa yang beranggotakan Putu Cahya May Ariani, Luh Ayu Puspita Dewi, dan Fajar Maulana Hidayat itu menemukan adanya nilai premium nama brand hotel dalam persepsi kaum milenial.
Riset yang mengangkat topic “Persepsi dan Preferensi Konsumen Milenial Indonesia Terhadap Nama Merek Hotel” dan dibimbing oleh dosen Putu Chris Susanto itu, juga menemukan nama merek hotel yang tidak memiliki makna kamus juga dinilai lebih premium dibandingkan nama merek hotel berbahasa Indonesia. “Namun, tidak untuk semua kategori persepsi, hanya hotel yang lebih baru, mahal, mewah, internasional, dan berkualitas tinggi,” kata Putu Cahya May Ariani.
Sementara itu, antara nama merek hotel berbahasa Inggris dan tanpa makna kamus tidak didapatkan perbedaan yang signifikan. Penelitian mahasiswa lintas disiplin ilmu antara program studi S1 Manajemen dan S1 Sastra Inggris ini juga menemukan, konsumen milenial cenderung menyukai nama brand hotel berbahasa Inggris. Preferensi ini didapatkan dari survey terhadap 100 konsumen milenial di Bali. “Nama merek (brand) merupakan identitas sekaligus pembeda suatu produk dengan produk lainnya, termasuk di industry perhotelan,” imbuhnya.
Sementara Putu Chris Susanto mengatakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pebisnis industry perhotelan dalam menentukan strategi branding. Utamanya jika target sasaran mereka mencakup wisatawan domestic dari generasi milenial yang cenderung semakin meningkat keinginannya untuk berwisata, serta permintaannya terhadap layanan hotel. “Apalagi, jika hotel tersebut dari namanya saja sudah bisa memiliki persepsi premium di benak para konsumen milenial,” imbuhnya. (BTN/bud)