Munculnya kembali istilah “link and match” nampaknya harus segera direspon oleh dunia pendidikan khususnya di tingkat perguruan tinggi. Link and match  yang artinya tautan dan cocokkan  adalah salah satu sistem penyelenggaraan pembelajaran di kelas yang bertautan dan cocok dengan kondisi di lapangan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Awalnya konsep ini digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1993-1998, Prof. Dr.–Ing. Wardiman Djojonegoro, selanjutnya di era industri 4.0 dipertegas lagi oleh menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Dalam konsep link and match, Wardiman Djojonegoro menyampaikan bahwa isi pendidikan hendaknya sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa sewaktu mulai bekerja.

Untuk membuktikan sistem link and match telah dilaksanakan di Universitas Dhyana Pura; maka bertempat di ruang teater Universitas Dhyana Pura, salah satu Program Studi Undhira yakni Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini menggelar 3 kegiatan yaitu Workshop Hasil Pengamatan Lapangan (PUD 1502), Pembuatan Alat Permainan dan Penerapannya (1307), Seni Tari Anak Usia Dini (1306) dan PUD (1305). Tiga kegiatan ini adalah dalam rangka menempuh Ujian Akhir Semester (UAS) yang diikuti oleh 10 orang mahasiswa semester 5 dan 7. Kegiatan ini sesungguhnya adalah sebuah langkah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa melakukan praktek, sehingga dari hasil praktek ini benar adanya sistem link and match dengan dunia kerja yang nyata dan akan bisa menjawab tantangan bagi para lulusan setelah mahasiswa tamat dan lulus dari Undhira. Sistem kuliah link and macth ini juga memberikan keyakinan dan rasa percaya diri kepada mahasiswa, bahwa ketika mereka lulus dari Undhira akan siap dan mampu bekerja sesuai dengan kompetensi mahasiswa yang bersangkutan.

Kaprodi Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, Christiani Endah Poerwati S.Pd., M.Pd menjelaskan pada saat pelaksanaan kegiatan; bahwa apa yang dipelajari saat perkuliahan di kelas hendaknya akan dapat diaplikasikan di lapangan, dan senantiasa mengadakan pengamatan, membuka wawasan, khusunya yang berkaitan dengan perkembangan pendidikan anak usia dini. Pada kegiatan pengamatan lapangan mahasiwa telah menemukan masalah di lapangan dan mereka sudah dapat memberikan solusi atas permasalahan yang ada sesuai dengan knowledge, soft skill dan  kompetensi yang dimiliki mahasiswa. Sedangkan pada pembuatan alat permainan dan penerapannya, mahasiswa telah dapat membuat alat-alat atau properti untuk seni tari anak usia dini berupa topi, cangkul, serta kostum penari  seperti kostum  penari monyet, tarian matahari, dan tari tani. Demikian pula kemampuan menciptakan gerak dan tari yang diajarkan harus diaplikasikan, sebab gerakan tari untuk anak usia dini, sangat berbeda dengan gerakan tari orang dewasa. Gerakan tari pada anak usia dini umumnya bersifat pengulangan dari 5-6 gerakan, dengan ditambah variasi formasi yang sederhana. Formasi yang sederhana ini dimaksudkan supaya peserta didik dapat mengikuti tariannya dengan mudah. Selanjutnya yang terpenting juga, bagaimana mahasiswa bisa menanamkan rasa percaya diri sesuai dengan tahun karakter Undhira 2020 sebagai Tahun Percaya Diri. Tahun percaya diri ini adalah bagian dari isi 7 Karakter Undhira yang isinya  Self confidence (percaya diri), Integrity (Integritas) Plurarism (keberagaman), Intra-entrepeneurship (kewira usahaan), Servant Leadership (kepemimpinan yang melayani), Professionalism (Profesional), Globally (Mendunia). Dijelaskan oleh salah seorang mahasiswa, bahwa dengan belajar 7 karakter, dan mengikuti perkuliahan dengan sistem link and match, maka mereka tidak khawatir lagi setelah lulus dari Undhira dan siap untuk ikut memajukan dunia pendidikan khususnya dunia pendidikan pada anak usia dini, guna kelak menjamin kepastian tersedianya sumber daya manusia untuk menuju Indonesia Unggul. Sampai saat ini Undhira membuka 15 program studi dengan akreditasi “B”, yang juga sejak awal telah menerapkan sistem pendidikan link and match; ada tautan dan kecocokan antara teori yang diajarkan di kelas dengan kebutuhan dunia kerja.