LLDIKTI Wilayah 8 membina perguruan tinggi di Bali dan Nusa Tenggara Barat dengan ruh filosofi “Depang anake ngadanin”, yang menekankan kerendahan hati dan orientasi kuat pada pelayanan mutu. Dengan membawahi 104 perguruan tinggi, 616 program studi, sekitar 629.893 mahasiswa, dan 6.918 dosen tetap, wilayah Bali–NTB tampil sebagai salah satu pusat pertumbuhan pendidikan tinggi paling dinamis di kawasan timur Indonesia. Dalam ekosistem besar ini, LLDIKTI Wilayah 8 memainkan peran strategis dalam penjaminan mutu, penguatan kelembagaan, pengembangan SDM dosen, serta pendampingan akreditasi dan pelaporan PDDikti agar seluruh perguruan tinggi tetap berdaya saing sekaligus selaras dengan kebutuhan pembangunan daerah dan kearifan lokal.

Di tengah ekosistem tersebut, Universitas Dhyana Pura mengelola lima fakultas Kedokteran, Kesehatan dan Sains, Bisnis dan Pariwisata, Pendidikan dan Humaniora, serta Teknologi dan Informatika dengan 20 program studi dan sekitar 2.768 mahasiswa aktif. Menjelang akhir 2025, Undhira meraih dua penghargaan prestisius dari LLDIKTI Wilayah 8 pada hari Kamis, 11 Desember 2025. Pertama, predikat Terbaik 1 sebagai “Perguruan Tinggi Akademik dengan Pelaporan SPMI Terbaik”, yang menegaskan bahwa siklus penjaminan mutu internal dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, hingga peningkatan berjalan konsisten dan terdokumentasi. Kedua, penghargaan Terbaik 2 sebagai “Kampus Siaga Bencana Provinsi Bali”, yang menunjukkan keseriusan universitas membangun sistem manajemen risiko dan kesiapsiagaan bencana yang terstruktur, mulai dari kebijakan, SOP evakuasi, pelatihan, hingga koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Dua penghargaan ini memiliki urgensi tinggi bagi tata kelola perguruan tinggi swasta. Pelaporan SPMI yang andal menjadi fondasi akreditasi, pemenuhan standar nasional, dan pengambilan keputusan strategis berbasis data. Keunggulan di bidang ini meningkatkan kepercayaan mahasiswa, orang tua, mitra industri, dan pemerintah bahwa Undhira dikelola secara profesional dan akuntabel. Pada saat yang sama, predikat Kampus Siaga Bencana memastikan bahwa proses pendidikan tidak mudah terganggu oleh bencana, aset kampus lebih terlindungi, serta keselamatan sivitas akademika ditempatkan sebagai prioritas. Di wilayah rawan bencana seperti Bali–NTB, kesiapsiagaan bukan lagi pelengkap, melainkan elemen inti reputasi institusi.

Sinergi keduanya menjadikan Undhira tidak hanya taat mutu secara administratif, tetapi juga resilien dan adaptif menghadapi risiko eksternal. SPMI yang kuat memastikan seluruh program, termasuk kesiapsiagaan bencana, masuk ke dalam siklus peningkatan berkelanjutan sehingga kebijakan benar-benar terwujud dalam praktik. Memasuki 2026, Undhira menempatkan keunggulan SPMI dan kapasitas sebagai Kampus Siaga Bencana sebagai dua modal utama untuk melompat lebih jauh. Penguatan SPMI sebagai “ruang kendali” semua kebijakan, integrasi manajemen risiko bencana ke dalam rencana strategis dan kurikulum, pengembangan SDM dosen dan tenaga kependidikan di bidang mutu dan kebencanaan, serta optimalisasi dukungan LLDIKTI menjadi agenda utama. Dengan demikian, Undhira membangun positioning sebagai kampus yang unggul akademik, aman, rendah hati, dan peduli keberlanjutan, sekaligus meneguhkan diri sebagai model tata kelola perguruan tinggi yang modern dan berkelanjutan di bawah naungan LLDIKTI Wilayah 8 Bali–NTB.